Gara-gara Nila 4 Titik
Nick Sophocleous sedang merapikan kamar, ketika pacarnya menelpon. Si pacar beberapa waktu lalu keluar membeli bahan sarapan, dan kini tak bisa kembali ke kamar karena polisi menutup areal flat. Nick, mantan polisi yang kini kameramen dan fotografer amatir segera mengintip lewat jendela. Polisi bersenjata lengkap ada dimana-mana. Meski tak tau apa yang terjadi, nalurinya mendorong sebuah reaksi. Meraih handycam, yang ternyata baterenya habis. Frustrasi pun segera menyergapnya.Sambil men-cas batere kamera, ia mengintip dan terus berdoa semoga sesuatu yang bakal terjadi, menunggu ia selesai mengisi batere. Dua puluh menit berlalu, ia yakin kamera sudah berfungsi. Tepat kamera menyala, diseberang, ia melihat dua pria keluar kamar dengan tangan terangkat, dengan polisi bersenjata terkokang disekelingnya.
Ia terus merekam, sambil berjaga agar polisi tidak melihatnya. Drama pagi itu berakhir. Tapi Nick tetap harus terkurung, karena polisi masih menjaga areal penggerebekan tetap bersih. Ia mengemail BBC, ITV, dan Sky News, tiga stasiun televisi berbasis London. Ia meyakinkan mereka, bahwa gambar ini adalah peristiwa besar. Sky News, stasiun televisi kabel sistem berbayar, memberi tawaran tertinggi. Tapi karena Nick tidak suka kepada dominasi raja media Rupert Murdoch, ia memilih ITV yang memberi harga 60 ribu Pound (kl 1 Milyar rupiah).
Singkat cerita, video itu pun tiba di studio ITV. Gambar Mukhtar Said Ibrahim dan Ramzi Muhammad, sedang bertelanjang dada mengangkat tangan tinggi tanda menyerah. Mukhtar dan Ramzi, adalah dua tersangka pengeboman tube yang gagal, tanggal 21 Juli. Tersangka lainnya, Yasin Hassan Omar dan Hussain Usman, sudah tertangkap lebih dulu.
Esoknya, koran-koran pun menyajikan gambar itu. Sejumlah media mulai tidak bisa menahan diri. The SUN, yang sejak awal mulai menyerempet, kini terang-terangan. Cover depannya bertulis “Got the Bastard” diatas foto penangkapan tadi. Daily Express tampil dengan “Thank God”, dan “Got Them” di Daily Mirror.
Sorotan media terhadap kasus terorisme ini, berdampak luas pada kehidupan kaum muslim di seantero Inggris. Kasus kejahatan berbasis agama meningkat tajam hanya dalam sebulan. Polisi menerima pengaduan sebanyak 269 kasus, mulai dari serangan verbal sampai pengrusakan tempat ibadah. Jumlah ini naik 600 persen dibanding tahun sebelumnya yang hanya 40 kasus. Bahkan dalam 3 hari setelah serangan 7/7, polisi menerima pengaduan 68 kasus. Mesjid The Mazhirul Ulum, yang berdiri megah di Mile End, London Timur, kawasan yang banyak dihuni komunitas muslim Bangladesh dan Pakistan, dilempari hingga 19 jendelanya pecah. Juga mesjid di daerah-daerah dengan jumlah komunitas muslim besar, seperti Leeds dan Bradford. Di Norwich sendiri, jendela mesjid milik komunitas Bangladesh pecah karena dilempar oleh dua perempuan mabuk. Mesjid ini memang rawan pengurusakan, sebab terselip di kawasan dugem Norwich, diantara gedung-gedung hiburan, pub dan amusement.
Tak hanya kaum muslim. Dua orang Asia non-muslim, diserang secara fisik di Edinburg, Skotlandia. Penyerang mengaku menuntut balas atas serangan bom London. Ini menyiratkan peningkatan kejahatan rasisme ini tidak melulu soal agama, tapi juga menyangkut irihati terhadap imigran. Satu dari dua anggota DPR partai Buruh yang beragama Islam, Sadiq Khan menyatakan, penyerangan akan terus meningkat. Sebab warga Inggris mengunakan kasus bom London hanya sebagai pembenaran utnuk menuntaskan rasa tidak senangnya kepada imigran dan warga Muslim.
Kasus terorisme ini memang membuat trauma warga dan pemerintah Inggris. Apalagi, saat investigasi kasus pertama 7/7 sedang hangat-hangatnya, Inggris nyaris dihajar kejadian serupa dua pekan kemudian. Saat ini, London khususnya, bersiaga penuh. Polisi bersenjata lengkap mudah ditemukan dimana-mana, terutama stasiun tube.
Mereka juga trauma terhadap tas dan ransel. Pengumuman agar tidak meninggalkan tas sembarangan ditempel di banyak tempat. Sekali waktu di terminal bis Victoria London, aku mendengar pengumuman rencana pemindahan dan pengrusakan koper yang diletakkan di ruang tunggu. Rupanya sebelum pengumuman itu, sudah beberapa kali ada panggilan agar pemilik tas segera mengakui dan menjaga tas itu.
Sebulan setelah ledakan 7/7, puluhan penumpang bus tingkat jalur 205 yang sedang melintas di Gray’s Inn Road, dekat King’s Cross –salah satu stasiun tempat kereta meledak—berhamburan. Karena tiba-tiba asap memenuhi ruang penumpang. Polisi pun sigap menutup jalan dan mengevakuasi penumpang. Pasukan anti bom pun berdatangan. Ternyata, asap itu berasal dari kerusakan mesin. Trauma itu menyebabkan tas berserak dimana-mana, karena ditinggal demi menyelamatkan jiwa, juga seorang perempuan patah pergelangan kaki karena berebutan turun.
Yasmin Alibhai-Brown, kolumnis perempuan muslim asal Uganda, menuliskan pengalamannnya di majalah Time, pernah melihat lima penumpang tube segera turun lagi, hanya karena seorang mahasiswa asal Sudan masuk ke gerbong yang sama. Yasmin, doktor dari Oxford yang banyak menulis buku tentang rasisme ini, juga menceritakan kisah sahabatnya yang ditolak naik ke bus hanya karena supir tidak suka melihat ia membawa tas besar.
Perlakuan macam ini memang memicu kebencian mendalam bagi warga muslim. Sehingga tulis Yasmin, ia meminta anaknya seorang pengacara yang menikah dengan perempuan Inggris, agar bersabar. Anaknya itu potensil diperiksa oleh polisi, sebab ia berwajah arab. Yasmin meminta anaknya tidak emosi, berdebat, apalagi lari menghindar. Mungkin Yasmin belajar dari pengalaman Jean Charles de Menezes, pemuda Brazil yang ditembak mati karena menghindar dari polisi.
Kepanikan juga melanda pemerintah Inggris. Inggris yang selama ini dituding Amerika dan Uni Eropa sebagai negara yang membiarkan teroris berbiak, mulai berbalik. Omar Bakri Muhammad, warga Yordania yang di negaranya hendak ditangkap, justru menjadi warga Inggris. Ia adalah pentolan Hizbut Thahrir, dan pendiri organisasi Al Muhajirun. Kini, Omar yang sedang berada di Yordania terancam tidak bisa kembali karena aturan baru tentang anti-terorisme. Padahal bulan depan, ia sudah dijadwalkan untuk operasi jantung di rumah sakit Inggris. Koran The SUN segera sigap mengompori, dengan menyebut Omar sebagai “parasit” yang memperoleh benefit dari pemerintah Inggris, tapi sekaligus merusak sendi kehidupan Inggris.
Selain Omar, Inggris juga membiarkan Abu Uzair, Abu Izzadin, dan Abu Qatada hidup dengan damai. Mereka bebas mendirikan organisasi berbasis Islam, tapi kini semuanya terancam diusir. Izzadin, juru bicara Al-Ghuraba, memperoleh stempel kebencian karena menganggap bom bunuh diri adalah sesuatu yang patutu diacungi jempol. Abu Uzair, pendiri Saviour Sect yang merupakan sempalan Al Muhajirun menyatakan, “pelarangan hanya akan meningkatkan semangat jihad”.
Sementara mereka masih terancam pengusiran, Abu Qatada sudah ditangkap. Namun pemerintah berkilah, Qatada, yang dikenal sebagai Dutabesar Al Qaida di Eropa, ditangkap karena pelanggaran aturan keimigrasian.
Pemerintah dan media memang berlaku hati-hati dalam urusan terorisme ini. Selain karena aturan hak-hak sipil yang ketat, juga kekhawatiran peningkatan serangan balasan terhadap kaum muslim yang akan bermuara pada pembalasan dendam lebih dahsyat. Hanya beberapa hari setelah koran-koran menulis secara miring penangkapan Mukhtar Said Ibrahim dan Ramzi Muhammad, organisasi hak sipil Liberty langsung melayangkan protes kepada Dewan Pers Inggris. Menurut direkturnya, Shami Chakrabarty, pers telah menghakimi tersangka diluar pengadilan resmi.
Tampaknya Inggris sadar, sikap permusuhan berlebihan terhadap kaum muslim hanya akan mengundang tindakan balasan yang tak terduga. Sebab sejauh ini, alur pemeriksaan tersangka bom justru membuat polisi frustrasi. Sebab, mereka tak kunjung menemukan benang merah antara kasus 7/7 dengan kasus 21/7. Alih-alih dengan Al Qaida.

Karena serangan yang massive di berbagai lokasi, kepanikan pun segera merebak ke antero London. Untunglah, kerapian, kecepatan, dan ketenangan polisi mengatur keadaan membuatku sedikit lebih tenang. Awalnya, bus yang jalurnya tidak terganggu tetap jalan, meski jarang, tidak sesuai jadwal, dan penuh sesak.
Suara azan ashar mempercepat makan siang kami yang terlambat. Padahal makan siang ini ternikmat yang pernah aku rasakan selama tinggal di Inggris. Sop buntut, tahu, dan sambel terasi. Tapi, inilah kali pertama aku mendengar suara azan di rumah. Di Bradford. Maka, piring pun segera dibenahi, dan bergegas ke masjid.
Besar dan banyaknya mesjid di Bradford, menunjukkan besarnya komunitas muslim disini. Penanda lain, adalah sebaran toko dan restoran halal. Maka sehabis shalat, Yudi, teman kami yang bersekolah di Universitas Bradford mengajak berjalan keliling kota. Tak jauh dari mesjid, sebuah supermarket besar menjual makanan halal, diberi nama “Al Halal”. Kata Yudi, kalau kita iseng bertanya tentang kehalalan sebuah produk yang dijual disana, penjaga akan bilang, “namanya saja sudah toko Halal, ya pasti halal”.
Perempuan paruh baya itu sedang jalan-jalan di sore yang dingin. Ia melihat Anne Sacks, kandidat anggota parlemen dari Partai Buruh di halaman rumah tetangganya. Perempuan berambut pirang itu segera masuk rumah. Anne, yang memasang mawar merah, warna Buruh, sebagai hiasan jasnya, sedang mengadakan kampanye door to door.
Perang Irak memang menjadi duri dalam daging bagi karir politik Tony Blair. Seminggu sebelum Pemilu, masalah Irak ini tiba-tiba muncul, yakni Jaksa Agung Inggris ternyata tidak pernah memberikan izin penyerangan ke Irak tahun 2003. Sungguh sebuah kebocoran yang sempurna, dan di waktu yang sangat tepat, menjelang pemilu.
Pada pemilu sebelumnya, Buruh memenangi pemilih mengambang, dimana pemilih muslim yang utamanya pendatang, masuk dalam kategori ini. Sayangnya, kali ini perang Irak menjadi isu yang banyak digunakan oleh partai oposisi, Konservatif dan Liberal Demokrat maupun mereka yang membangkang dari Partai Buruh sendiri untuk menyerang Blair. Salah satu yang meraih untung adalah George Galloway.
Di Westminster Abbey, Langdon dan Neveu ke makam Newton untuk mencari arti dari kode dalam tulisan rahasia (crytex) yang mereka dapat dari kakek Neveu. Ternyata, beberapa saat kemudian mereka mendapat pesan, bahwa Teabing ada disana. Kalau mereka berdua berniat menyelamatkan Teabing, harus datang ke taman College Garden, yang ada di dalam kompleks Westminster Abbey. Di taman yang dipakai para rahib untuk menanam berbagai tumbuhan obat-obatan ini, Langdon dan Neveu baru sadar, bahwa Teabing adalah otak dari semua kekacauan yang terjadi. Ketika sampai di Chapter House, Teabing mengancam mereka dengan pistol, meminta mereka bekerja sama. Neveu menolak. Tapi Langdon khawatir Neveu dibunuh Teabing, jika ia juga menolak. Ia setuju kerjasama, tapi ia juga melemparkan keystone yang ia bawa sampai pecah. Mereka kemudian berusaha mencari tahu, apa petunjuk kunci selanjutnya, yang mengarahkan ke dimana makam Maria Magdalena.
Pintu belakang mobil Mercy jenis MVP itu terbuka perlahan. Lalu, plang besi yang menjadi penghalang rebah ke tanah, membentuk lintasan landai. Tak lama, seorang perempuan setengah baya di atas scooter menuruni lintasan tadi. Semuanya elektrik. Selepas mengucap salam kepada pengantarnya, mungkin suaminya, ia menjalankan scooter beroda tiga memasuki pelataran rumah sakit.
Pemandangan di jalan raya ini menjadi bukti fisikal paling menonjol, contoh pemuliaan manusia. Masih banyak contoh kehidupan lain yang membuat kehidupan menjadi lebih bermutu. Jalanan yang tidak macet, lapangan sebagai daerah resapan dan tempat bermain mudah ditemui dimana-mana. Nah ini satu lagi, air yang bisa langsung diminum dari kran. Luar biasa, karena ini aku dapati justru di negara barat, negara yang jauh dari ajaran Islam, dan cenderung melegalkan pola kehidupan bebas. Padahal, bukankah Allah pertama kali menurunkan air yang bisa diminum tanpa dimasak itu adalah di tanah Islam, yakni air zamzam. Padahal bukankah, negara-negara Islam itu yang mengenal semboyan “Bersih itu sebagian dari iman”.
Selain mesjid Al Ihsan, Norwich juga memiliki mesjid yang digerakkan oleh komunitas Bangladesh, yang sebagian besar pedagang. Mesjid ini terletak di dekat stasiun kereta api Norwich. Masih dekat pusat kota, tapi di sisi yang berlawanan dengan Al Ihsan. Bangunan ini terselip di antara gedung lain, sehingga tidak kentara sebagai mesjid. Satu-satunya penanda adalah bingkai kaca jendelanya yang dibuat melengkung menyerupai kubah, serta Plang kecil tertempel di dinding nyaris tak terlihat. Mesjid Bangladesh, demikian orang menyebutnya, terletak bersebelahan dengan amusement, tempat main bilyar, jackpot, dan kasino. 

